“Argo Lawu ya pak, tujuan Jakarta 3 orang”, kataku pada petugas karcis di pemesanan tiket Stasiun Semarang Tawang. “Rp 690.000,- dek”, kata petugas itu. Aku langsung membuka amplop yang sengaja memang aku siapkan dari rumah untuk membayar karcis. Aku berikan 7 lembar uang seratus ribu dan kembali sepuluh ribu. “Untung masih ada kembalian, masih bisa buat beli bensin untuk pulang”, kataku sambil menghela nafas
Aku ingin ke Jakarta bersama dengan 2 orang temanku untuk menghadiri sebuah seminar di salah satu universitas di Jakarta. Sampai di rumah aku menelpon temanku Anggi dan Sinta dan memberi tahu bahwa kita akan berangkat esok pagi. Malam harinya aku menyiapkan segala keperluan yang akan di bawa ke Jakarta. “Kamu berapa hari disana dek?”, tanya kakakku. “2 hari mas, hari Jumat aku pulang lagi”, balasku. “Oh ya ini mas ada sedikit uang saku untukmu dek, terima ya”, kakakku memberi Rp 700.000. “wah banyak sekali”, fikirku dalam hati. “Oh, matur nuwun ya mas”, kataku sambil tersenyum. Dia hanya membalas dengan senyuman lalu pergi keluar kamarku.
Keesokannya, aku bersiap-siap ke Stasiun aku berpamitan ke orang tuaku. “Pak, Bu aku tak budal sik yo ning Jakarta”, kataku sambil mencium tangan kedua orang tuaku. “Hati-hati ya le”, kata ibu ku. Sesampainya di Stasiun Anggi dan Sinta sudah menunggu. “Maaf ya lama menunggu”, ucapku sambil menghela nafas karena berlari-lari. “Kita juga udah tau kalo kamu itu kebiasaan telat”, tukas Sinta. “Yaudah ayo kita naik ke kereta, tuh udah ada”, sambung Anggi
“Nomor piro kursine?”, tanya Sinta. “4 ABC”, balasku sambil melihat karcis yang kupegang. Setelah menaruh tas di bagasi atas tempat duduk, Sinta dan Anggi duduk, aku duduk sendiri kebetulan memang kosong karena bukan hari libur. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 saatnya kereta Argo Lawu ini berangkat. Perlahan mulai bergerak dan akhirnya melaju dengan kecepatan tinggi. Lalu lalang petugas kereta yang menawarkan menu, souvenir aku hiraukan. Aku lirik Anggi sedang asyik menggunakan laptopnya dan Sinta tertidur pulas. Sebenarnya inilah kesempatan aku untuk menyatakan perasaanku ke Anggi, sudah lama aku memendam perasaan ini. Anggi menoleh sambil tersenyum dan berkata, “ada apa?” , “tidak”, jawabku singkat. Aku bangkit dari tempat dudukku untuk pergi ke sambungan kereta api, sambil menyalakan rokok dan kulihat pemandangan diluar. Menghilangkan rasa penatku sejenak lalu kembali ke tempat dudukku. Ternyata, tempat dudukku sudah di pakai untuk tidur Anggi, aku tak tega untuk membangunkannya. Aku tak tahu dia dengan isi hatiku atau tidak, Anggi terbangun, “ maaf di, aku ketiduran di tempatmu habis Sinta menyuruhku pindah, aku liat kamu gak ada yaudah aku tempati”, katanya. “Oh gak apa-apa kok, kalo mau tidur lagi silahkan, lagian kita sampai di Jakarta kan nanti jam 4 sore, sekarang baru jam 11 siang”, kataku. Akhirnya, Anggi tidak tidur dan aku duduk disebelahnya, rasa gugup dan keringat dingin membasahi keningku. “Kamu kenapa di? Kamu sakit ya?”, tanya dia sambil mengusap keningku dengan sapu tangannya. “Waduh, gawat ini makin parah aja”, kataku dalam hati. “Aku bawa obat kok, kamu minum ya?”, tawar Anggi sambil membuka tasnya. “E…ee… gak usah, aku baik-baik aja kok”, balasku dengan nada gugup. Aku heran kenapa dia perhatian sekali dengan aku?. Inilah saat yang tepat untuk menyatakan, “Anggi, se…see.. sebenernya….” , “sebenarnya apa?”, tanya Anggi. “Sebenernya aku sayang kamu, udah lama aku nyimpan rasa ini ke kamu, karena aku takut jika aku bilang dan Sinta tau dia akan marah dan bisa merusak persahabatan kita” , tukasku. Lalu Anggi membalas, “ Sinta gak bakal marah di, malah asal kamu tau ya, dia menyuruh aku dan kamu itu jadian dan juga sebenernya aku juga sayang sama kamu di”. Aku tak percaya apa yang dikatakannya dan sekali lagi aku bertanya, “apa kamu mau jadian sama aku sekarang?”. Anggi hanya tersenyum dan mengangguk. Aku balas dengan senyuman dan kupeluk Anggi. Dan saat itu Sinta terbangun dan melihat kami. “Cie…ciee..udah jadian nih.”. Aku dan Anggi terkejut dan hanya tersenyum. “Udah, kalian itu cocok kok jadi pasangan, aku setuju dan aku gak bakal marah”, katanya. “Makasih ya sin, udah dukung”, kata Anggi. Kebetulan ada petugas dalam kereta yang lalu lalang menawarkan menu, “Sebagai rasa terima kasihku kalian berdua aku traktir mau pesan apa?”. “Aku nasi rames sama jus alpukat di”, jawab Sinta semangat. “Aku sama kayak kamu aja di”, jawab Anggi sambil bersandar di pundakku. “Mas, nasi rames 1, nasi goreng 2, jus alpukat satu sama, es jeruknya dua”, pesanku pada petugas itu. Tak lama dia mencatat dan pergi ke restorasi. Kami bercanda, tertawa dan tak terasa makanan telah siap, Sinta langsung makan dengan lahap dan aku menyuapi Anggi. Tak terasa, kereta Argo Lawu ini sudah hamper memasuki Stasiun Gambir. Kami bersiap dan menunggu di depan pintu keluar gerbong kami. Setelah kereta berhenti, Sinta dan Anggi langsung keluar dengan semngat. Aku mengikuti mereka dari belakang sambil tersenyum. Aku mencim gerbong kereta Argo Lawu dan berkata dalam hati, “terima kasih ya, karena kamu telah mempersatukan rasa cinta kami.” . “Hei Rudy, ayo cepat ngapain disitu? Mau ke Semarang lagi kamu?” , teriak Sinta. Aku bergegas beranjak dan sekali lagi berkata, “terima kasih Argo Lawu.”
Jakarta, Tuesday 7-12-2010
07.00AM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya sangat berterima kasih kalau anda yang sudah berkunjung meninggalkan sepatah kata untuk memberi kritik atau saran